Analisisstruktural genetik puisi Senja di Pelabuhan Kecil Karya Chairil Anwar. Artikel ini merupakan tugas Tagihan dalam program GuruPembelajar.id. Disusun Oleh M. Nasiruddin Timbul Joyo, Peserta Kelas Bahasa Indonesia D Jatim KK-F Jember-1. Contohpuisi elegi : Senja di Pelabuhan Kecil. Karya: Chairil Anwar. Buat Sri Ayati Ini kali tidak ada yang mencari cinta di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut,menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut. Gerimis mempercepat kelam. PuisiPilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.) Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award Pemerintah Australia ( 1977 ), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand ( 1994 ), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Vay Tiền Trả Góp 24 Tháng. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. AKU INI BINATANG JALANG adalah sebuah antologi puisi yang sajak-sajaknya dijadikan satu sejak tahun 1942 hingga 1949, dan tentunya sajak tersebut di tulis oleh pengarangnya sendiri, yaitu ialah Chairil Anwar. Karya dari Chairil Anwar sudah sangat melegenda hingga saat ini, terutama yang berjudul Aku Ini Binatang Jalang. Buku ini pertama kali dibukukan pada tahun 1986, saat ini bukunya merupakan cetakan ketiga puluh tiga pada November Anwar, lahir 26 Juli 1922 di Medan, meninggal 28 April 1949 di Jakarta. Chairil Anwar pernah berpendidikan di MULO singkatan dari Meer Uitgebreid Lager Onderwijs sekolah yang didirikan oleh belanda, setingkat dengan SMP pada saat ini. Chairil Anwar, pernah mengenyam pendidikan di MULO Medan dan harus berpindah MULO di Jakarta karena mengikuti Ibunya, namun pendidikan Chairil di MULO harus terhenti dikelas dua lalu dia memutuskan untuk belajar sendiri. Meskipun Chairil hanya berhenti sampai kelas dua di MULO, tetapi Chairil Anwar memiliki banyak karya sastra salah satunya ialah Aku Ini Binatang Jalang dan puisi inilah yang menjadikan Chairil Anwar dijuluki sebagai Si Binatang Jalang. Chairil Anwar, dijuluki Si Binatang Jalang karena puisi Aku Ini Binatang Jalang dianggap terlalu individualistis dan berbau pemujaan pada diri sendiri. Chairil Anwar juga dijuluki sebagai pelopor angkatan 45 karena karya-karya dari Chairil Anwar memiliki pembaharuan yang telah mendobrak aturan-aturan kaku yang membatasi kebebasan julukan pelopor Angkatan 45 yang dimiliki oleh Chairil Anwar, membuat saya bernafsu untuk mengulik buku AKU INI BINATANG JALANG. Untuk mencari tahu seperti apa majas-majas yang ada pada puisi dalam buku kumpulan puisi buku kumpulan puisi yang berjudul AKU INI BINATANG JALANG banyak puisi yang ingin saya bahas, tetapi saya memilih satu dari sekian banyak puisi yang ada di dalam buku tersebut untuk saya bahas yaitu puisi yang berjudul “Senja Di Pelabuhan Kecil”. Saya memilih puisi tersebut untuk saya bahas karena puisi tersebut di buat dan di tujukan untuk Sri Ajati, orang yang ia tersebut menggambarkan kepedihan yang mendalam, karena itu lah saya memilih puisi ini. Karena pada puisi yang pada penulisannya melibatkan perasaan penulis pasti sangat banyak majas-majas yang di muat dalam puisi tersebut. Yang akan saya bahas dari puisi “Senja Di Pelabuhan Kecil” ini yakni tentang majas-majas yang terkandung di dalam puisi tersebut. Pada puisi “Senja Di Pelabuhan Kecil terdapat” terdapat majas metafora, majas metafora sendiri adalah majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis. Pada larik “di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali”, “Kapal, perahu tiada melaut” dan “tanah dan air tidur” Chairil Anwar menggunakan kata kiasan untuk memperdalam rasa duka dan pedih yang dia rasakan.“di antara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali” adalah gambaran dari ketidakberdayaan Chairil Anwar, berfokus pada “tiang serta temali” yang tidak berguna dalam “gudang yang berada di rumah tua”. Chairil Anwar menggambarkan bahwa harapannya kandas bagaikan “kapal, perahu” yang “tiada melaut” berdiam tak berguna di tepi pantai. Chairil Anwar menggambarkan kebekuan hati yang dirasakannya bagai “tanah dan air” yang “tidur” dan tidak juga majas personifikasi yaitu majas yang membandingkan benda-benda mati seperti memiliki sifat seperti manusia, ada beberapa larik dalam puisi “Senja Di Pelabuhan Kecil” yang memiliki majas personifikasi. “Ada juga kelepak elang menyinggung muram, desir hari lari berenang”, “dan kini tanah dan air tidur hilang ombak”, “sedu penghabisan bisa terdekap” pada larik-larik inilah terdapat majas personifikasi. 1 2 Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya SENJA DI PELABUHAN KECIL Chairil Anwar Kepada Sri Ajati Ini kali tidak ada yang mencari cinta Di antara gudang, rumah tua, pada cerita Tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut Menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang Menyinggung muram, desir hari lari berenang Menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak Dan kini tanah dan air tidur hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan Menyisir semenanjung, masih pengap harap Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap INTERPRETASI PUISI SENJA DI PELABUHAN KECIL Pada bait pertama “ini kali tidak ada yang mencari cinta” pengarang mencoba mengungkapkan perasaan hatinya yang merasa sedih ditinggalkan oleh seorang kekasih yang di cintainya. Pengarang dalam puisi ini merasakan kesendirian yang memilukan ia merasa sudah tidak ada cinta lagi. “diantara gudang, rumah tua, pada cerita tiang serta temali” gudang dan rumah tua menunjukkan tempat yang tidak lagi terurus dan tak berpenghuni dengan tiang dan temali yang berserakan. Benda-benda tersebut mengungkapkan perasaan sedih dan tak berguna lagi. Pengarang merasakan kehampaan hati karena cintanya yang hilang. Pada baris terakhir pengarang menggambarkan “kapal, perahu tiada belaut menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut”. Pengarang merasa hatinya sedang tidak bergejolak, seperti kapal dan perahu yang sedang tidak berlayar di lautan dan hanya menambatkan diri di tepi laut. Pengarang berusaha tegar dalam rasa sedihnya tersebut. Kata-kata yang digunakan pengarang juga seperti ingin menghibur diri dalam kesendirian tetapi ia tetap merasakan kesendirian tanpa aktivitas apapun dan selalu terbayang kenangan cinta yang telah hilang. Pada bait ke-dua pengarang merasakan kesendirian yang setia bersamanya. Pada kalimat “gerimis mempercepat kelam” mengartikan bahwa keadaan yang sedang hujan rintik-rintik tersebut membuat suasana hati pengarang terasa lebih gelap dan suram. Duka hati pengarang karena sedih dan merasa sepi diibaratkan dapat mendengar kelepak elang yang membuat pengarang merasakan kepedihan dan keputusasaan. “desir hari lari berenang” hari pun dikatakan pengarang seakan berlari dan berenang menjauhi dia sehingga dia tidak bisa memutar balik wakttu itu. Keinginannya untuk bertemu dengan kekasihnya timbul tenggelam karena cintanya sudah bertepuk sebelah tangan dan keinginannya itu hanya akan menjadi harapan yang sia-sia. “kini tanah dan air tidur hilang ombak” Pengarang seperti mengungkapkan bahwa dirinya telah kehilangan sumber kebahagiaan seperti ombak yang datang membawa air ke pantai dan mengambil sebagian pasir pantai ke laut. Kehidupan seolah tidak bergerak karena penyair sedang kehilangan semangat hidup. Laut di senja hari merupakan tempat yang sesuai untuk melukiskan kehidupan yang sepi yang sedang dirasakan oleh pengarang. Pada bait ke-tiga pengarang seolah-olah merasa putus asa dengan kesedihan yang dialaminya. Hal ini tercermin dari kata-kata pengarang yang masih belum juga menemukan semangat hidup “tiada lagi, aku sendiri”. Pengarang merasa hanya hidup seorang diri di dunia ini. Pantai yang sepi tanpa hiruk-pikuk manusia digunakan sebagai penggambaran hidupnya. Meskipun pengarang berusaha menghibur diri dengan kedamaian suasana pantai, akan tetapi ia tidak juga menemukan sesuatu yang bisa membangkitkan semangat hidupnya. Ia seperti baru saja kehilangan suatu harapan dan hal tersebut membuat pengarang tidak mempunyai harapan lagi dalam hidup ini. Semenanjung merupakan daratan yang menjorok ke laut. Ujung dari semenanjung bisa berarti jurang yang langsung berbatasan dengan laut. Kata selamat jalan seolah memberikan pengertian bahwa penyair ingin meninggalkan kehidupannya yang sepi dan tanpa harapan. Mungkin dengan begitu, segala kesedihan, kedukaan, dan kesepian yang ia rasakan akan hilang. TINGKAT PENGALAMAN JIWA PUISI SENJA DI PELABUHAN KECIL Pada puisi “Senja di pelabuhan Kecil” pengarang sudah mencapai tingkat pertama yaitu anorganis, karena apa yang dirasakan pengarang sudah menuangkan kedalam rangkaian kata dan memberikan imajinasi atau daya bayang pada pembaca. Tingkat anorganis dapat dibuktikan dalam baris “…desir hari lari berenang menemu bujuk pangkal akanan”. Pada puisi “Senja di Pelabuhan kecil” pengarang sudah pemcapai tingkat kedua yaitu vegetative sebagaimana terdapat dalam tumbuh-tubuhan. Ada pergantian dari tumbuh, berdaun, berbunga, dan gugur. Jadi ada suasana tertentu yang tercipta dari situasi tersebut. Pada puisi tersebut sudah terlihat jelas dan dapat dirasakan oleh pembaca suasana menyedihkan dan keputusasaan. Suasana menyedihkan tejadi pada saat pengarang merasa bahwa dirinya sudah tak bergula lagi ia merasakan kesendirian yang sangat memilukan karena ditinggal oleh sang kekasih. Suasana keputusasaan ketika pengarang ingin bertemu dengan kekasihnya lagi hanya menjadi sebuah pengharapan yang sia-sia. Tingkat vegetatif dapat dibuktikan dalam baris “Ini kali tidak ada yang mencari cinta” dan “Tiada lagi. Aku sendiri. berjalan menyisir semenanjung, masih pengap harap…” Pada puisi “Senja di pelabuhan Kecil” pengarang sudah mencapai tingkat ketiga yaitu animal. Pengalaman jiwa seperti yang dicapai oleh binatang, yaitu ada nafsu-nafsu jasmaniah. Apabila tingkat ini dicapai maka akan berbentuk nafsu naluriah seperti keinginan untuk makan, minum, munculnya kemarahan atau pun konflik batin secara personal sehingga menimbulkan keinginan. Tingkatan ini sudah ada dalam jiwa pengarang yaitu berkeinginan untuk meninggalkan masa lalunya dan ingin memulai hidup baru. Tingkat animal dapat dibuktikan dalam baris “masih pengap harap sekali tiba di ujung dan sekalain selamat jalan dari pantai keempat, sedu penghabisa bisa terdekap”. Pada puisi “Senja di pelabuhan Kecil” pengarang sudah mencapai tingkat keempat yaitu humanis horizontal. Sudah ada konflok batin secara horizontal yang ada dalam diri pribadi seseorang baik secara internal maupun eksternal. Tingkatan ini sudah ada dalam jiwa pengarang yaitu pengarang dalam puisinya ingin memberi tahu kepada pembaca bahwa keinginannya untuk kembali pada Sri Ajati tidak akan pernah tercapai dan sia-sia. Tingkat humanis horizontal dapat dibuktikan dalam bait “Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan Menyisir semenanjung, masih pengap harap Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan Dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap” PENILAIAN PUISI SENJA DI PELABUHAN KECIL Pada puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” karya Chairil Anwar menurut saya puisinya bagus terlihat pada pemilihan diksi yang tepat, akan tetapi dalam puisi tersebut juga masih banyak dijumpai kata-kata yang sulit untuk di pahami sehingga membutuhkan kamus untuk menghartikannya. Pada puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” juga membutuhkan pemahaman yang yang tinggi untuk mengetahui maksud atau makna dari puisi tersebut. Membutuhkan tingkat pengalalman dan penghayatan agar pembaca dapat mengetahui maksut tersirat dari puisi “Senja di Pelabuhan Kecil”. The aims of this research are to describe the position and role of Tengku Amir Hamzah’s Lyric Poetries in the perspectives of Cultural Studies, to explain about the representation of the Dutch East Indies’ social realities depicted in Tengku Amir Hamzah’s works 1911 – 1946, and to expose about the intentions of the Lyric Poetries’ creations based on theories such as Counterhegemony, Archetypal, Fenomenology Literature, Social Construction and Deconstruction using concepts such as Angkatan Poedjangga Baroe, Lyric Poetry, Intellectual Community, Social Praxis Discource, and Cultural Studies. This research uses Qualitative Decriptive method with Content Analysis focus. The data of the dissertation consist of 15 Lyric Poetries written by Tengku Amir Hamzah, namely 5 Lyric Poetries of Njanji Sunji book 1937 and 10 Lyric Poetries of Buah Rindu book 1941. The data collection techniques are done by performing close reading of Tengku Amir Hamzah’s works, library research, Focus Group Discussion FGD, field research, and documentation studies, while the data analysis techniques are done by verification and triangulation. Based on research analysis, the uniqueness of Tengku Amir Hamzah’s Lyric Poetries lie in the use of Bahasa Indonesia, polite dictions, taking the forms of Monarch-Centric Poetry, and prosodies. According to their structures, the poetries closely resemble the 19th century British Romantic Period works; which are identical in the exertions of monostichs, tercets, quatrains, and odd stanzas. Based on the perspectives of Indonesian Literature, Tengku Amir Hamzah’s Lyric Poetries are categorized as the literary work of sufism, Malay-centric, and unrequited love. As for the perspectives of Cultural Studies, they are classified as archaic, archetypes, patriotic, and emancipatory literature. Furthermore, the Lyric Poetries are used as means of media opposition through Counterhegemony for the purpose of delivering irony toward social gap and devide et impera. On the other hand, they are positioned as the act of intellectual movements in order to signalize the rise of nationalism and the efforts to end the Dutch Colonialism.

analisis puisi senja di pelabuhan kecil